Jendela Kamar
Disini kutermenung
Dijendela kamar ini kumerenungkan apa yang ada dipikiranku
Seluruh hatiku berkata "Apa yang ada dipikiranku ini, keseluruhannya adalah bayang-bayang yang tak tetap, harus kemanakah kulanjutkan langkah kaki ini? kaki yang amat sangat kaku, dan tak mampu ku taklukan untuk memulai melangkah satu demi satu langkah demi langkah pijakan kaki ini"
Disini, dijendela kamar kudapat menyaksikan langit menatap kesendirianku
Hai langit, maukah kau berteman denganku, aku sangat kesepian
bayang-bayang ini sungguh menghantuiku, walau ku tak tahu pasti bayangan apa yang mengikutiku, tapi aku selalu cemas dan merasa khawatir
Disini, dijendala kamar ku duduk terdiam dalam lantunan irama musik gitar yang tenang
Aku berpikir untuk tidak melanjutkan hidupku
"Apakah aku gila?"
"Aku terlihat bagai jiwa yang tak bernyawa"
Hidup ku kini sudah tak berarti lagi, "haruskah aku mengakhiri hidupku atau bertahan?"
Namun jikalau kubertahanpun, aku merasa tak sanggup
Aku menghela nafas sejenak,
Terlintas memang seperti ada hal yang aneh didalam diriku ini, bagai angin ditelan ombak hidupku bagaikan buih lautan yang tak tentu arah mau kemana namun aku selalu ditempat, di lautan lepas, seperti tak ada satupun yang bisa menahanku untuk melakukan apapun, "salahkah aku seperti ini?"
Diruangan ini, di kamar ku tepatnya, aku mencoba untuk menyukuri segala nikmat dan karunia yang semesta telah berikan padaku
Namun, aku membutuhkan tiang penyanggah, yang dimana ketika aku merasa terluka setidaknya aku mampu untuk berdiri kembali dan bertahan
Seseorang yang mampu mengayomiku
Seseorang yang mampu menuntunku
Seseorang yang mampu menjaga dan melindungiku
Hingga saat ini semesta belum mempertemukanku dengan seseorang tersebut yang entah dimana aku dapat menemukannya
Semesta langit ingin sekali ku menyampaikan ini kepada Mu
Sejak aku dilahirkan, hidupku sungguh menyiksa ragaku, aku yakin Engkau pun tahu dan melihatnya
Bolehkah aku meminta keindahan hidup, ijinkan aku walau hanya sekejap, setidaknya akan aku manfaatkan waktu yang tersisa, waktu dimana ketika aku mendapatkan keindahan hidup
Aku tahu aku tak layak, karena diriku ini teramat hina dihadapan Mu
Tapi aku percaya, aku percaya akan keajaiban Mu
Walau aku terkadang ragu, aku layak atau tidak
Semesta bumi
Bumi yang kupijaki ini
Bumi yang kusandarkan segala kegilaan hidupku
Bumi yang sepatutnya ku jaga dengan kebaikan hatiku
Namun sayangnya telah kusia-siakan
Segala hal yang telah kumiliki lenyap begitu saja
Bahkan diri ini merasa sesak akan polusi kehidupan yang menyayat dadaku
Andai aku diberikan kesempatan dilahirkan kembali, aku ingin dilahirkan di dalam lingkungan dan keluarga yang penuh kasih sayang, yang rela menyisakan waktunya untukku walau hanya hitungan menit
Mungkin ini yang dinamakan garis takdir kehidupan
Jiwa-jiwa yang telah tergoreskan dalam tinta milik-Nya yang tak mampu ku ubah setiap goresannya
Hitungan jam pun tak dapat ku ubah
Hanya sanggup ku syukuri setiap detiknya
Mungkin ini jalan satu-satunya hidupku
Mensyukuri takdir kelam ini
Jujur begitu sedih jika ku tak mampu bertahan, begitu menyekap hati dan batinku
Namun saat ini yang kumampu lakukan adalah terus berjalan walau tertatih, terus melangkah walau terisak sesak didada, terus bertahan walau nafas telah diujung tanduk, terus melawan walau raga ini bagai jiwa yang lumpuh, terus berjuang walau tak ada satupun kerabat bahkan keluarga yang menyokongku dari belakang
Semua kulampaui dengan jeritan hati yang menangis membasahi setiap luka diwajah
Semua kulewati dengan kaki yang menahan letihnya terik sinar mentari
Semua kupertahankan dengan pundak yang menampung ribuan beban hidup yang kutangguhkan
Semua kujalani dengan raga yang berdiri tegap, raga kokoh yang membentengi diri ini dari kerasnya kehidupan luar
Semesta
Aku tersadar
Dari jendela kamar ini lah kuyakinkan kembali hati ini, agar tetap pulih layaknya rembulan, walau merasa kesepian, hampa dan gelap, selalu ada bintang disampingnya yang menenangkannya yang senantiasa sedia disamping rembulan memberikan keindahan sinarnya walau tak banyak, tapi mampu setia disamping sang rembulan
Semesta
Kau bagaikan bintang bagiku, walau ku tak dapat menggapai Mu namun sinar Mu dapat kurasakan, kehangatan inilah yang membuatku merasa nyaman dan tenang, yang mendorongku untuk selalu bertahan
Semesta samudera
Di jendela kamar ku ini
Aku memandang langit dan menengadahkan kepalaku menghadap keatas awan
Satu hal yang ingin kutanyakan pada Mu
"Akankah aku hidup bertahan seperti ini selamanya hingga Kau memanggilku?"
Komentar
Posting Komentar